Johnny Brojo : “Lebih dari 20 Tahun, Red Baboon Tetap Survive”

Nama Johnny Brojo, tiba-tiba muncul di Facebook (FB) awal September lalu. Keberadaan akun Johnny Brojo sempat menjadi perbincangan di kalangan pengguna esen, khususnya pemain galapung, galatama ataupun harian ikan mas. Mungkin banyak para pemancing lebih mengenal produk esen racikannya dibanding orang yang meraciknya. Siapakah Johnny Brojo ini?

Dikalangan kolam pemancingan galatama di Bandung nama Johhny Brojo sangat familier di telinga para pemain galatama. “Apalagi di kolam galatama Situ Umar, Lembang, Bandung pemancing mengenal saya juga dengan nama Red Boboon,” kata pemilik nama asli Yohans Octaryan CH.

Red Baboon, merupakan merek esen di Bandung yang dirintis Johnny sejak tahun 1997. Semula esen ini dijual dari teman ke teman sesama pemancing di empang. Seiring perjalan waktu, esen Red Baboon pun semakin dicari pemancing di Bandung dan sekitarnya sehingga permintaan semakin banyak dan produksi terus meningkat. “Saya belajar secara otodidak dan kebetulan diberi talenta untuk membuat oplosan esen yang baik,” tutur Johnny.

Menekuni bisnis esen adalah pilihan bagi pria yang kini berusia 60 tahun ini. Pasalnya ketika terjadi krisis ekonomi tahun 1997, ia merupakan salah satu korban PHK besar-besaran dari sebuah perusahaan farmasi, dengan posisi terakhir sebagai supervisor penjualan. “Saya terpaksa mengambil pensiun dini, sebelum perusahaan tutup, mengingat saat perusahaan tempat saya bekerja sedang goyang,” kenangnya.

Dari hobi mancing yang dilakoni sejak masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), ia pun terinspirasi untuk membuat esen, karena ketika di Setu Umar, Lembang, para pemancing mulai menggunakan esen sebagai perangsang umpan.

Berawal dari coba-coba, berbekal pengalaman sebagai pemancing ia merintis untuk mengoplos esen, dari situ pun berubah-ubah oplosannya, hingga ketemu formulasi yang tepat. “Begitu ketemu formulasinya, makin lama makin jadi, dan cukup mengejutkan juga sampe saat ini,” katanya.

Penggunaan merek Red Baboon boleh jadi ia dapat secara kebetulan, sebab saat itu istilah Baboon sangat populer di Jakarta dan semua pemain galatama ikan mas pun berburu Baboon saat di empang. Apalagi bila dapat Baboon merah, pasti semua suka, karena sebagai induk terbesar dan bila dapat Baboon merah akan dapat hadiah terberat. Dari situlah Johnny terinspirasi untuk menggunakan nama Red Baboon untuk produk esennya, mengingat produk ini digunakan para pemancing untuk mendapatkan baboon. “Merek Red Baboon, saya gunakan sejak tahun 2000 sampai sekarang,” katanya.

Johnny pun punya cara tersendiri untuk menjual Red Baboon. Cara jualannya pun terhitung unik, selain melalui tokonya di jalan Luewi Panjang No.50 Bandung,
Johnny pun mempercayakan beberapa toko yang ingin menjual Red Baboon di Bandung dan ada satu toko yang setia serta menjalin hubungan yang baik dan bisa memegang komitmen. “Saya jual esen Red Baboon tidak muluk-muluk, asal cukup untuk hidup sehari-hari sudah cukup, khususnya untuk Red Baboon yang dijual lokalan di Bandung,” katanya.

Karena esen Red Baboon banyak yang cari ia pun memberanikan diri untuk menjual produknya via FB. Meskipun awalnya ia mengaku gaptek dan tidak tahu bagaimana caranya. Akunnya di FB atas nama Johnny Brojo yang mulai muncul 4 September lalu pun dibuatkan ponakannya. “Saya jarang muncul di FB, tapi setiap hari monitor jika lagi senggang, tapi kalau ada yang invite, saya approve. Tapi untuk melayani penjualan biasanya via WA atau telepon bila ingin konsultasi esen,” katanya.

Diakui Johnny, untuk Red Baboon varian lokal tidak jauh berbeda secara kualitas juga baik, dan harga jualnya di bawah Rp 100 ribu, untuk ukuran 30 ml dan ini diminati para pemancing di Bandung dan kota-kota lain di Timur Bandung seperti Garut, Ciamis, Tasikmalaya, Cirebon dan kota-kota lainnya di wilayah Timur Bandung.

Sedangkan varian yang dijual via FB, merupakan varian Red Baboon pilihan yang dibanrol harganya sekitar Rp 300 ribu-Rp350 ribu untuk botol ukuran 35 ml. “Wajar varian di FB lebih mahal, karena dari bahan dan kualitas lebih baik dan saya tingkatkan 5 kali lipat. Saya buatkan yang sangat spesial dan menggigit berdasarkan pengalaman saya,” tuturnya.

Apalagi dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, cukup banyak formulasi esen bagus yang ia hasilkan. Jadi saat ini tinggal buka catatan/primbonnya dan disesuaikan dengan tren yang ada sekarang, misalnya dengan penambahan usar atau nilam yang sebelumnya memang belum ada, tinggal modifikasi saja.

Johnny mengingatkan, kepada calon konsumennya bila belum pernah atau atau baru pertama menggunakan essen red baboon, sebaiknya harus berhati-hati. Saran nya, sebaiknya sharing dengan teman-teman yang telah berpengalaman menggunakan esen Red Babbon di group FB atau bisa juga konsultasi langsung dengan pemilik Red Baboon untuk mendapatkan arahan pemakaian, agar hasilnya lebih maksimal.

Ia sangat sadar, pembuat esen makin hari kian banyak, sehingga persaingan bisnis ini sangat ketat. Apalagi bila melihat di media sosial bermacam-macam merek esen ditawarkan dengan harganya yang bervariasi. Melihat situasi seperti ini Johnny hanya berujar untuk bisa bersaing Red Baboon tetap bermain diharga yang terjangkau dan secara kualitas bisa diterima konsumen.

Terkait kualitas, ia serahkan ke pasar, tapi bila ada permintaan varian tertentu bagus ia hanya bersyukur, karena semua dilakukan secara otodidak berdasarkan hasil pengalaman mancing, tanpa pendidikan khusus.

Dengan pengalaman dan talentanya, bagi Johnny untuk membuat varian baru bukan hal yang sulit. Bila esen dasarnya ada, paling hanya 2-3 kali tes di kolam sudah bisa terukur hasilnya. Untuk uji coba esen baru produksinya paling sekitar 300 ml, itu pun juga dibagi-bagikan ke teman-temannya di empang, untuk tester.

Sebagai produsen esen, Johnny akan merasa senang bila esen ini banyak digunakan orang dan berguna serta pemancing pun ikut senang menggunakan esen Red Baboon. “Apalagi bila berhasil podium, sehingga keyakinan konsumen semakin percaya diri menggunakan Red Baboon,” katanya.

Diakui Johnny, membuat esen penuh perjuangan dan dibutuhkan talenta dan pengalaman untuk menghasilkan esen yang berkualitas. Karena kalau cuma sekadar mengoplos banyak yang bisa, tapi secara kualitas belum teruji.

Di tengah ketatnya persaingan bisnis esen sebagai pemilik Red Baboon ia tidak berambisi esennya menjadi yang nomer satu. “Saya tidak berambisi menjadi yang terbesar, yang penting merek Red Baboon disukai dan dicari pelanggannya. Bagi saya bila Red Baboon bisa mencukupi kebutuhan kehidupanya sehari-hari, saya sangat bersyukur,” katanya .

(DN-JMI)

Lihat Juga

DIVA TUNA, Dimakan Ikan Mas Babon 7,2 Kilogram

Babon ikan mas seberat 7,2 kilogram berhasil hook up pada saat pengenalan produk baru Diva …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!