Jurus Kang Ito Besarkan Djempol, 313 dan Pelangi

16 tahun bukan waktu yang singkat bagi Sumaryono yang lebih beken dengan nama Kang Ito untuk menekuni bisnis umpan dasar ikan merek Djempol. Jatuh bangun pun dilakoni pria kelahiran Yogyakarta 25 Juli 1968. Kini, Kang Ito yang juga sering disapa ‘Mbah’ kian ekspansif mengembangkan umpan dasar dan amisan dengan brand Djempol, 313 dan Pelangi.

Sebelum menekuni bisnis umpan ikan, Kang Ito, rela melepaskan jabatan GM Marketing & Sales di sebuah perusahaan printing tahun 2004. Dari situ alumni SMEA Negeri I Maguwoharjo, Yogyakarta mencoba berbisnis mie ayam dengan merek Midori di Yogyakarta, tahun 2005.

Sayangnya, itupun tidak berumur panjang, meskipun saat itu dalam setahun sudah ada 30 counter yang dikembangkan. Dan terpaksa harus gulung tikar karena isu formalin dan flu burung, sehingga orang menghidari makan mie.

Dari Yogyakarta, Maret 2006, ayah dua putri ini pun kembali ke Jakarta. Saat itu ia pun sempat bingung ingin apa di Jakarta. Akhirnya tercetus ide untuk menekuni bisnis hobi umpan jadi sebagai penyambung hidup di Jakarta. Dengan modal 135 ribu rupiah, ia mencoba membuat umpan dan mencoba dititipkan ke toko umpan merek Kang Ito mulai dari 10 bungkus dan mendapat respon yang bagus dari konsumen.

Bahkan sempat kewalahan produksinya karena permintaan semakin banyak, seiiring perjalanan waktu hingga mencapai sekitar 1000 bungkus per bulan untuk pelanggan Bekasi, Jakarta dan Tanggerang. “Saya melakukan trial and error untuk umpan basah, karena tidak tahan basi dan tidak tahu teknologinya. Saya harus ubah menjadi umpan bubuk,” kenangnya.

Dari situlah sekitar tahun 2007, ia melakukan uji coba membuat umpan bubuk selama 3-4 bulan, dan dihasilkan aroma amis spesial, pandan wangi dan keju susu yang sekarang dikenal dengan Djempol Reguler.

Setelah itu muncul Djempol Premium. Alasannya saat itu kebanyakan packaging umpan umumnya hanya plastik. Ia berpikir regulernya harus berbeda dengan pemain lain. “Saya tidak mau jadi follower, tapi harus jadi leader,” katanya.

Untuk menjadi leader di bisnis umpan ia pun sudah menyiapkan packeging yang berbeda. Untuk meningkatkan kualitas ia pun harus melakukan moderinisasi dan memberanikan diri untuk investasi mesin untuk packeging tahun 2009. Dari sinilah lahir Djempol Premium dan berjalan, permintaannya pun luar biasa.

Langkah Kang Ito, tidak terhenti sampai disitu, untuk membidik segmen bawah, ia ciptakan 313 tahun 2012, ini pun umpan bubuk, karena orientasi pasar yang ia bidik kesemua daerah.

Diakui Ito, saat itu dengan harga jual umpan per pack Rp 3000, sudah termasuk mahal, karena harga umpan di Bandung dan Bogor umumnya sekitar Rp 1000 per bungkus.

Ia pun berusaha mencari celah yang tidak dilakukan orang lain, sehingga lebih dikenal misalnya dari sisi packeging dan strategi pemasarannya. Untuk pemasaran diakui Ito, ia memilih tidak menggunakan reseller ataupun sales dan umumnya ia jalani sendiri, sehingga lebih cepat.

Ito mengungkapkan, untuk memasarkan produknya ia punya cara tersendiri, saat ini ia lebih mengandalkan 150 an grosir. “Seluruh toko pancing besar sudah ambil ke saya,” katanya.

Bahkan ia mengaku tidak pernah mendatangi grosir. Tapi justru ia yang minta pemancing mendatangi ke grosir untuk memasarkan produknya. Karena kalau sudah lebih dari 3 konsumen menanyakan produk Djempol, grosir itu akan mencari tahu dimana untuk mendapatkan, makanya dengan pola ini grosir yang akan mencari dirinya. Karena untuk pembelian tersebut ada quantity minimal yang harus dibeli, misalnya 2000 pcs untuk satu varian.

Salah satu jurus yang jarang dilakukan pemain umpan lain adalah promosi. Diakui Ito, saat itu tidak ada satu produsen yang melakukan promosi direct user. Berbeda dengan Ito yang turun langsung ke empang-empang pemancingan dan membagikan gratis umpan ke pemancing. “Dari sini saya banyak dapat masukan terhadap kekurangan produknya dari para user,” katanya.

Bahkan untuk biaya promosi, ia menganggarkan minimal 40 persen dari keuntungan untuk promosi. Tapi saat ini untuk kegiatan promosi digencarkan melalui medsos.

Tahun 2015, ia melengkapi produk yaitu dengan mengekuarkan umpan serbuk merek Pelangi, sehingga dari Reguler, 313, Premium dan Pelangi totalnya ada 17 rasa. Karena prinsipnya kalau ikan mas di aroma, setelah itu kandungan lain bisa ditambah.

Perjalanannya pun tidak semulus yang dilakukan. Misalnya ketika melahirkan
Salmon Pelangi, saat trial kemasannya masih tebal, tapi begitu mulai produksi, packeging tipis. “Saya gak mau ribut dan komplain, akhirnya banyak yang bocor, tapi produk ini permintaannya bagus,” katanya.

Selain itu, ada juga Tuna Djempol yang diproduksi tahun 2018. Kemudian mengembangkan amisan Salmon dari pabrik di Banyuwangi dengan produksi sekitar 2.500 bungkus per hari. Amisan Djempol lainnya Krapu, Kakap, Kembung, Tongkol, Kepiting, Udang dan Nila. “Produksinya kami lakukan bergantian,” katanya

Investasi untuk amisan ikan Tuna, mesinnya saja sekitar 1,1 miliar rupiah. Sedangkan investasi pabrik dan mesin sekitar 500 juta rupiah. Mesinnya digunakan untuk setrilisasi agar bisa awet. “Kami akan fokus pada produk amisan,” katanya.

Ke depannya, produk amisan akan terus dikembangkan, mungkin bisa mencapai 15 varian amisan. Karena ia sedang menyiapkan lahan untuk pembangunan pabrik. Meskipun saat ini kontribusi amisan baru 10 persen dan kontribusi terbesar masih dikuasai umpan dasar.

Dipilihnya amisan, sebesar-besarnya bisnis umpan ikan pasarnya tetap segitu-gitu saja, berbeda dengan produk customer good. Tapi pada prinsipnya, tetap akan mengembangkan 3 merek yaitu Djempol, Pelangi dan 313.

Diakui Ito, bisnis umpan sangat segmented. Tapi yang harus dilakukan dengan menggenjot promosinya untuk menambah user-nya. “Tapi felling saya misalnya dari 20 orang pemancing, 70 persen sudah menggunakan umpan saya,” katanya.

Mimpinya, untuk menciptakan umpan ready to use. Secara teknologi dan system ia mengklaim sudah dimiliki, hanya saja tinggal masalah waktu kapan akan dikerjakan. Mengingat hal ini membutuhkan energi yang besar dan ia sudah merasa lelah.

Diakui Ito, hambatan terbesar dalam mengembangkan bisnis ini justru ada pada diri sendiri. “Kadang saya merasa malas. Semua dijalani dengan easy going,” katanya sambil mengayunkan jorannya di Pemancingan Telagawaru, Depok.

(Darandono/JMI)

Lihat Juga

Johnny Brojo : “Lebih dari 20 Tahun, Red Baboon Tetap Survive”

Nama Johnny Brojo, tiba-tiba muncul di Facebook (FB) awal September lalu. Keberadaan akun Johnny Brojo …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!