Mengenal Ikan Bandeng

Chanos chanos adalah nama latin dari ikan Bandeng, jenis ikan pangan populer di Asia Tenggara ini merupakan spesies dalam suku Chanidae. Orang Bugis dan Makasar menyebutnya sebagai ikan bolu. Sedang secara populer dalam bahasa Inggris ikan ini disebut ‘milkfish’ .

Habitat ikan Bandeng  tersebar dari pantai Afrika Timur sampai kepulauan  sebelah timur Tahiti, dan dari Selatan laut Jepang sampai perairan laut Australia Utara. Ikan bandeng terkenal dengan kebiasaanya yang suka menjelajah.

Ikan bandeng memiliki bentuk tubuh yang panjang, ramping, padat, pipih, dan oval. Menyerupai torpedo. Ukuran kepala seimbang dengan ukuran tubuhnya, berbentuk lonjong dan tidak bersisik. Bagian depan kepala (mendekati mulut) semakin runcing. Sirip dada ikan bandeng terbentuk dari lapisan semacam lilin, berbentuk segitiga, terletak di belakang insang di samping perut. Sirip punggung pada ikan bandeng terbentuk dari kulit yang berlapis dan licin, letaknya jauh di belakang tutup insang dan berbentuk segiempat. Sirip punggung tersusun dari tulang sebanyak 14 batang. Sirip ini terletak persis pada puncak punggung dan berfungsi untuk mengendalikan diri ketika berenang. Sirip perut terletak pada bagian bawah tubuh dan sirip anus terletak di bagian depan anus. Di bagian paling belakang tubuh ikan bandeng terdapat sirip ekor berukuran paling besar dibandingkan sirip-sirip lain. Pada bagian ujungnya berbentuk runcing, semakin ke pangkal ekor semakin lebar dan membentuk sebuah gunting terbuka. Sirip ekor ini berfungsi sebagai kemudi laju tubuhnya ketika bergerak.

Ikan yang biasa hidup bergerombol ini senang mencari makan di sekitar pesisir pantai dan pulau pulau dengan terumbu koral. Cara berkembang biak ikan bandeng ini sangat unik. Ketika baru menetas ikan bersisik warna silver ini hidup di laut selama 2–3 minggu, lalu ia akan pindah ke rawa rawa bakau atau danau berair payau atau berair asin. Bandeng kemudian akan kembali ke laut jika sudah dewasa untuk melanjutkan hidup dan berkembang biak.

Ikan bandeng mempunyai kebiasaan makan pada siang hari. Di habitat aslinya ikan bandeng mempunyai kebiasaan mengambil makanan dari lapisan atas dasar laut, yaitu berupa tumbuhan mikroskopis seperti: plankton, udang renik  dan tanaman multiseluler lainnya. Makanan ikan bandeng disesuaikan dengan ukuran mulutnya. Pada waktu larva, ikan bandeng tergolong karnivora, kemudian pada ukuran 3 sampai 5 centimeter  menjadi omnivore atau menjadi hewan pemakan tumbuhan dan hewan lain. Pada ukuran 8 sampai 12 centimeter termasuk ke dalam golongan herbivore, dimana pada fase ini juga ikan bandeng sudah bisa makan pakan buatan berupa pellet. Setelah dewasa, ikan bandeng kembali berubah menjadi omnivora lagi karena mengkonsumsi, algae, zooplankton, bentos lunak, roti dan pakan buatan berbentuk pellet.

Ikan Bandeng mudah dibudidayakan. Biasanya para pembudidaya akan membeli bibit nener  atau Ikan muda pada nelayan. Para nelayan menggunakan serokan untuk mengumpulkan nener  dari sungaiatau pantai dan kemudian pembudidaya akan membesarkannya dalam tambak tambak ikan. Ikan bandeng yang dipelihara dalam tambak akan lebih cepat besar jika diberi makan secara teratur dan terlindung dari hewan predator pemangsa. Pertumbuhan ikan bandeng relatif cepat, yaitu 1,1-1,7 % bobot badan/hari, dan bisa mencapai berat rata-rata 0,60 kg pada usia 5-6 bulan.

Setelah ikan tersebut berukuran sepanjang 25 hingga 30 cm pembudidaya akan menjual ikan ikan tersebut ke pasar.

Sebagai ikan konsumsi populer, ikan Bandeng disukai sebagai makanan karena rasanya yang gurih dan lezat. Dagingnya tidak asin seperti rasa ikan laut pada umumnya. Dapat  diolah dengan berbagai cara dan tidak mudah hancur ketika dimasak.

Menariknya lagi, hidangan ikan bandeng adalah masakan wajib dan menjadi bagian dari tradisi perayaan tahun Baru Imlek bagi warga keturunan Tionghoa di wilayah Jabodetabek.

Selain rasanya gurih, ikan bandeng banyak dijual di pasar tradisional bahkan super market. Sehingga ikan bandeng memiliki harga standar bagi kelas menengah ke atas.  Walau pun demikian,  ada hal yang kurang disukai orang dari ikan bandeng, yaitu durinya dan kadang-kadang daging ikannya berbau ‘lumpur’ atau ‘tanah’.

Duri dalam daging ikan bandeng, terutama dekat ekornya, sangat menggangu kenikmatan dalam menyantap sajian berbahan ikan tersebut. Gangguan ini dapat diatasi dengan cara memasaknya dalam waktu tertentu dan dengan menggunakan panci khusus bertekanan tinggi atau biasa dikenal orang dengan nama panci presto, sehingga durinya menjadi lunak dan mudah hancur ketika dikunyah.

Bau lumpur pada ikan bandeng banyak dijumpai pada bandeng yang berasal dari hasil pembesaran ikan di tambak. Penyebab utama bau tanah atau lumpur pada bandeng berasal dari bakteri cyanobacteria. Bakteri ini biasa menyerang ikan bandeng terutama dari genus Oscillatoria, Symloca dan Lyngbia yang dapat menghasilkan geosmin. Geosmin adalah senyawa organik dengan bau dan aroma alami khas yang dihasilkan oleh sejenis bakteri Antinobacteria.  Tambak adalah tempat yang kaya akan geosmin. ikan yang memakan geosmin ini, dagingnya akan memiliki cita rasa tanah. Geosmin juga penyebab bau lumpur pada banyak ikan air tawar komersial seperti ikan mas dan ikan patin. Lain halnya jika ikan bandeng dibesarkan dalam keramba, ikan bandeng jarang yang berbau lumpur karena kwalitas airnya lebih baik dan tidak mengandung banyak Geosmin seperti air dalam tambak.

Bau lumpur pada ikan dapat diatasi dengan banyak cara, antara lain memberi cuka dan bahan asam lainnya dalam resep memasak ikan. Atau dengan cara memelihara ikan selama 7 hingga 14 hari dalam air mengalir bebas biosmin sebelum dimasak untuk membantu mengurangi bau lumpur.

(Dari berbagai sumber/JMI)

 

Kerajaan Animalia
Filum Chordata
Kelas Actinopteri
Ordo Gonorynchiformes
Famili Chanidae
Genus Chanos
Spesies Chanos chanos
(Dari berbagai sumber/Gulali/JMI)

Lihat Juga

Mengenal 18 Jenis Ikan Baronang Yang Ada di Nusantara

Ikan Baronang atau nama kerennya rabbitfish adalah ikan yang  masuk dalam keluarga siginidae. Orang menyebutnya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!